Ideologi Kenormalan

Posted on 16/10/2010

47


Judul di atas bukan asli kata-kata saya sendiri melainkan dari Sapto Nugroho, “Bapak Ideologi Kenormalan” (kalau yang terakhir ini sebutan dari saya sendiri -walaupun barangkali sudah ada orang lain yang mneyebutnya-).

Saya tergelitik oleh ideologi kenormalan ketika minggu lalu (11/10/2010) sepulang dari menempuh perjalanan ke berbagai kota dan berkunjung ke RBI –Rumah Blogger Indonesia– karena Komunitas Blogger Bengawan beracara di sana bersama komunitas blogger dari berbagai kota antara lain dari Ponorogo, Malang, Ngawi, Madura, dan lain sebagainya. Selain acara rembug guyub yang digawangi oleh Yanuar Nugroho Ph.D., dosen dan peneliti dari Manchester University – Inggris, acara gayeng yang juga dihadiri oleh Donny BU dari ICT Watch/InternetSehat itu menampilkan pertunjukan Wayang Kampung Sebelah dengan dalang Jlitheng Suparman.

Sumpah! Seru polll…

gambar dari Facebook Muhammad Darul Mukhlasin

Kembali ke soal “ideologi kenormalan”, saya terlambat datang ke acara tersebut dan  tiba di RBI pada saat acara sudah setengah jalan. Beruntung, saya datang sudah tersedia makan siang… (mmm) Dan sambil menikmati lezatnya nasi ayam bakar, sebelum bergabung dengan sedulur-sedulur blogger yang sedang rembug guyub, saya rembugan sendiri dengan Sapto Nugroho, Direktur Yayasan Talenta Surakarta (sebetulnya yang tepat bukan rembugan, melainkan saya ngangsu kawruh kepada beliau). Di situlah saya banyak mendapat petatah-petitih tentang “ideologi kenormalan”…

Biar ceritanya agak nyambung- silahkan sedulur menyimak juga  tulisan saya sebelumnya tentang Yayasan Talenta Surakarta.

Normal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring adalah:

nor·mal a 1 menurut aturan atau menurut pola yg umum; sesuai dan tidak menyimpang dr suatu norma atau kaidah; sesuai dng keadaan yg biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan: bayi itu lahir dl keadaan –; 2 bebas dr gangguan jiwa;

me·nor·mal·kan v menjadikan normal

Secara fisik,  yang disebut normal adalah orang yang memiliki organ lengkap dan berfungsi, dan jika seorang memiliki organ lengkap tetapi ada satu atau dua organ yang tidak berfungsi, orang lain akan menyebutnya sebagai seorang yang tidak normal. Istilah normatifnya cacat. Demikian pula secara kejiwaan. Orang yang tidak memiliki kemampuan sebagaimana umumnya orang lain disebut tidak normal. Termasuk ini adalah gangguan jiwa, keterbelakangan mental, dan lain sebagainya. Pandangan ini mempengaruhi memengaruhi cara berpikir banyak orang sehingga mendiskrimikasikan orang-orang yang “dalam kurung” (tidak normal). Untuk memperhalus sebutan, kecacatan biasa dibahasakan dengan difabel.

People with different ability atau biasa disingkat difabel, secara harfiah berarti orang dengan kemampuan berbeda. Sebetulnya ini biasa saja karena setiap orang pun mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Namun, sebutan difabel biasanya ditujukan untuk mengistilahkan seseorang yang mengalami kekurangan pada fisik dan/atau mentalnya, sehingga dia menjadi terdiskriminasi atau diperlakukan secara berbeda oleh masyarakat. Selayaknya, kemampuan berbeda itu tidak dipandang sebagai kecacatan. Bukankah manusia itu ciptaan Tuhan yang paling sempurna???

Nah, berbagai bentuk pendiskriminasian di masyarakat itu -sengaja atau tidak sengaja- seringkali membuat para difabel tidak mendapatkan hak-haknya untuk mendapatkan akses dalam berbagai bidang kehidupan dan penghidupan. Padahal mereka hanyalah sekelompok manusia yang mengalami kekurangan fisik dan/atau mental. Pandangan masyarakat, mereka harus dikasihani dan bukan untuk diberi akses untuk dapat hidup wajar seperti orang lain pada umumnya.

gambar dari vivanews.com

Barangkali secara tidak sengaja, ideologi kenormalan masih merasuki pikiran saya dan sedulur sekalian. Semoga saja tidak… Karena seringkali kita malah tidak mendiskrimikasikan orang-orang yang mempunyai kecacatan hati misalnya koruptor, penjahat, penipu rakyat, dan lain sebagainya… (tears) Barangkali juga, ideologi kenormalan ini tidak hanya perlu dipahami dan dimengerti oleh  *dalam kurung* (orang normal) saja, melainkan juga oleh sebagian difabel yang justru memanfaatkan kekurangannya untuk menarik rasa iba dari orang lain…

Akhirnya, sebagai pelengkap tulisan ini karena tidak menceritakan lebih banyak soal Rembug Guyub di RBI #Bengawan itu, di sini saya sampaikan klip Wayang Kampung Sebelah sekedar untuk mengurangi penasaran bagi sedulur yang belum mengetahuinya…

http://www.youtube.com/v/3mQKg5SMZdg?fs=1&hl=en_US

Posted in: Cangkrukan