Mental Pembantu

Posted on 11/01/2011

25


Sering saya heran juga melihat banyak orang yang bisa enjoy saja di tempat yang tidak bersih. Saya kok susah untuk begitu kecuali keadaan memaksa untuk begitu. Bila terpaksa saya juga bisa beradaptasi dengan sangat baik. Bukan sekali dua kali harus tidur di sembarang tempat misalnya di emperan toko, di terminal, di stasiun, di pinggiran sungai di atas bebatuan, di hutan, dan tempat-tempat lain yang tidak layak untuk beristirahat.

Sumpah, saya termasuk orang yang kemproh. Tapi saya lebih suka yang bersih-bersih saja. Bahkan seringkali karena risih melihat tempat yang kotor, saya lebih suka langsung membersihkan daripada criwis dan crigis.

Bagaimanapun, tempat yang bersih lebih nyaman dan menyenangkan, sayangnya seringkali malas untuk bersih-bersih.

Ada seorang kawan saya yang berprofesi sebagai akuntan. Beberapa kali pernah saya ajak ke kantor saya dulu -yang agak kurang bersih- untuk berdiskusi. Setiap kali datang, sebelum duduk dia selalu mencari-cari lap atau sulak (kemucing) untuk menyeka debu di meja. Kadang kalau tidak ada, dia mengambil tisu dari tasnya dan digunakan untuk bersih-bersih.

Ada juga seorang kawan saya yang dulu selalu membawa asbak portabel karena tidak ingin mengotori sembarang tempat dengan abu dan puntung rokok. Eh, sekarang tidak lagi… 😀

Ada lagi seorang kawan saya seorang anggota DPRD. Saya pernah sekantor dengannya saat dia belum menjadi anggota. Untuk urusan kebersihan dia nomor satu di kantor. Tak segan-segan mengosongkan isi asbak yang sudah penuh dan membuangnya di tempat sampah. Bila lantai sedikit kotor sehingga tidak nyaman karena ada debu dan pasir sisa sepatu orang-orang yang hilir mudik, dia langsung menyapunya tidak perlu menunggu  atau menyuruh opas kantor.

Ada pula kawan saya seorang kyai pemimpin pondok kecil. Walaupun kyai, dia masih seumuran dengan saya. Untuk urusan kebersihan, patut diacungi jempol delapan. Tak ada mitos santri gudhigen di pondoknya, karena si kyai pun menerapkan standar kebersihan yang tinggi untuk semua santrinya, bahkan tak segan turun tangan membersihkan WC yang bau pesing.

Mereka-mereka menginspirasi dan memotivasi saya untuk menjaga kebersihan walaupun saya belum bisa sama seperti mereka.

Sayangnya, karena tidak sekali dua kali saya mengikhlaskan diri untuk bersih-bersih tempat yang bukan tempat saya sendiri, ada orang yang mengatakan bahwa saya ber-mental pembantu.

Apakah ada yang salah??? Dimana kelirunya??? (thinking)


Advertisements
Posted in: Catatan Sela