Riswah

Posted on 16/01/2011

37


Suatu sore, penjual susu segar keliling  langganan keluarga saya  memberitahu kalau dia akan libur untuk sementara waktu.

“Mungkin beberapa hari saya libur, jadi tidak ada antaran susu segar sampai minggu depan.” pamit penjual susu tersebut dengan sopan.

“Emang punya gawe apa pak?” tanya saya.

“Anu… Mau ngantar ponakan ke Jakarta ngurus penerimaan PNS. Ponakan saya itu diterima, jadi harus diurus ubo-rampenya langsung ke Jakarta” jawabnya.

“Lho, kok kayak ruwatan aja pakai ubo-rampe?” tanya saya sedikit geli dan ingin tahu.

“Iya, selain urusan kelengkapan administrasi, juga menyetorkan duitnya”

“Haahhh??? (woot) Habis berapa pak?”

“Seratus tiga puluh juta… kata bapaknya ponakan saya, ya kalau pasti diterima akan diusahakan, makanya karena sekarang sudah diterima ya harus disetor. Idep-idep modal pak! Kalau dipakai dagang, modal segitu juga nggak seberapa, lha kalau jadi PNS kan jelas bulanannya” terang penjual susu itu.

“Ooooo”……. (nottalking)

Setahu saya (sok nggak tahu), yang seperti itu cuma ada di jaman saya dulu waktu habis lulus sekolah. Ternyata sampai jaman sekarang, jaman SBY menggalakkan pemberantasan korupsi tetap saja masih ada suap-menyuap, sogok menyogok atau dalam bahasa syariah Islam disebut RISWAH.

Okelah, tak usahlah membahas soal syariah dan mengutip ayat atau hadits  misalnya:

Dari Abdullah bin Umar berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah melaknat orang yang menyuap, dan yang menerima suap” (HR: Ibnu Hibban)

Bila berkaca pada hati nurani diri sendiri pun tetap merupakan sesuatu yang SALAH bila ada pemberian dengan pamrih semacam agar diterima bekerja, agar diluluskan, agar mendapat keringanan pembayaran kewajiban pajak, agar tidak ditilang pak polisi, agar mendapatkan keringanan hukuman, dan lain sebagainya.

Yang namanya MODAL, itu kan untuk sesuatu investasi. Pun yang namanya HIBAH itu tetap berbeda dengan RISWAH (walaupun seringkali hanya tipis sekali perbedaannya). Pemberian hibah atau hadiah yang tanpa pamrih pun bisa berpotensi menjadi riswah misalnya pemberian angpao dan parcel.

Memberantas riswah dan kawan-kawannya rasanya terlalu sulit dilakukan per individu, harus dilakukan secara komunal. Sederhananya, kalau tidak ada yang mau menyuap, pastinya yang meminta suap pun kehabisan jalan. Kalau tidak ada yang mau menggunakan jasa CALO, pastinya percaloan akan tumpas dengan sendirinya.

Dalam skala nasional, soal pemberantasan korupsi, kolusi, katebelece, nepotisme, suap-menyuap, sogok-menyogok, dan lain-lain, sepertinya SBY sama sekali tidak bisa diandalkan.

tulisan ini hanyalah ungkapan keheranan bahwa ternyata banyak kasus termasuk kasus GAYUS  itu sebegitu mbeleber sampai kemana-mana dan sejauh ini belum jelas big-fish-nya, pun ternyata urusan riswah ini sudah jadi budaya dari tingkat yang sepele sampai kelas mafia.

gambar dari surabaya-metropolis.com


Posted in: Cangkrukan